Selasa, 21 Desember 2010

BUKAN Resensi "Burung Rantau Pulang Ke Sarang"

Setelah sekian tahun tak pernah membeli buku fiksi (terakhir ketika kuliah tingkat 1), kemarin aku tertarik dan akhirnya membeli sebuah novel berjudul "Burung Rantau Pulang Ke Sarang". Subjudulnya: novel sejarah Aceh. Dari kalimat itu, ada dua kata yang membuatku tergoda untuk membeli: "sejarah" dan "Aceh". Yah, sejak dulu aku memang suka pelajaran sejarah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Dan aku tertarik juga karena ada kata Aceh di situ. Kenapa aku tertarik? Karena saat ini aku bertugas di Aceh sehingga ada ketertarikan yang lebih untuk mengetahui kultur di sini melalui novel tersebut. Lalu, apakah novel tersebut benar-benar tentang sejarah Aceh? Menurutku TIDAK. Setting-nya memang daerah Aceh, khususnya Seulawah, pada masa Kerajaan Pasai. Namun, sejarah dan adat istiadat Aceh tidak terlalu kental terasa. Sepertinya tidak ada kejadian dalam novel ini yang bisa dihubungkan dengan salah satu peristiwa sejarah. Dan tidak tampak pula budaya Aceh, termasuk kulinernya, hehehe... Yang lebih banyak ditonjolkan adalah nilai-nilai kebijaksanaan, yang ditunjukkan lewat tokoh Teungku Chik Daya Seulawah. Dan ini salah satu nilai lebih novel ini. Yang lumayan berbau sejarah mungkin relasi antara Kerajaan Pasai dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Malaka dan Siam. Dialog dalam Bahasa Aceh pun termasuk sangat jarang. Padahal, menurutku, dialog dalam bahasa daerah bisa memperkuat setting dan menambah daya tarik. Meski dari segi dialog kurang berbau Aceh, dari penamaan tokoh tampaknya lumayan berbau Aceh. Aku tidak terlalu tahu nama-nama seperti apa saja yang "asli" Aceh. Namun, nama-nama tokoh seperti Banta, Manyak, Meutia, tampaknya bukan nama khas suku lain, jadi kusimpulkan itu nama khas Aceh (menyimpulkan tanpa dasar yang kuat, hehe).

Eh, eh, eh, sebenarnya novel itu bercerita tentang apa, sih? Cerita utamanya tentang perjalanan seorang pemimpin dayah (semacam pesantren) bernama Teungku Chik Dayah Seulawah, untuk menjemput anaknya yang sudah lama tidak pulang karena belajar di Makkah. Dan yang dimaksud dengan burung rantau adalah si anak tersebut yang bernama Hamzah. Sepertinya judul 'Burung Ranta Pulang Ke Sarang" kurang tepat karena fokus cerita bukan pada si burung rantau melainkan ayahnya yang berusaha menjemputnya. Awal ceritanya agak lumayan membosankan tapi tetap membuat penasaran (nah, lho!). Akhir cerita novel ini sangat tida terduga. Di samping me-mati-kan beberapa tokoh cerita, penulis juga membuat akhir yang unik dengan membuat dayah "bubar jalan". Akhir cerita yang tidak menyenangkan tapi juga tidak menyedihkan menurutku. Bagi yang menyukai cerita persilatan, novel ini bisa jadi menarik. Ada banyak sekali bagian yang menceritakan adegan pertarungan silat. Kalau adegan romantis? Maaf-maaf saja, ini bukan novel tentang percintaan. Tidak ada adegan yang romantis bagi kebanyakan orang. Namun, ada satu bagian yang kusuka ketika Gam Manyak dan dan Meutia bertengkar. Dengan sabarnya Gam Manyak menghadapi istrinya yang sedang marah sekaligus kalut. Ketika itu Gam Manyak mengajak Meutia menjenguk abang tirinya yang sudah membuat malu keluarga, Chi Twoa. Berhubung Meutia sudah sangat marah dan sakit hati pada sikap Chi Twoa, ia tidak mau ikut. Kalau tidak salah kemudian Gam Manyak menyatakan bahwa istri harus patuh pada suami. Saking marahnya dan tidak sudi bertemu Chi Twoa, Meutia terus membantah dan malah menyodorkan pipinya menantang suaminya bila hendak memukul. Tapi, Gam Manyak justru mencium pipinya, bukan memukul. So sweet!!! Meutia pun akhirnya mau pergi bersama suaminya. Coba saja kalau semua laki-laki sadar bahwa kelembutan, kesabaran, kasih sayang, dan KETULUSAN yang bisa meluluhkan hati perempuan, BUKAN sikap SUPERIOR. Semoga aku bisa memiliki suami sebaik Gam Manyak, Aamiiiiiiin... Lho, lho, lho, kenapa jadi membahas ini?

Ada banyak pesan moral yang tersurat dalam narasi dan dialog. Namun, aku justru kesulitan menemukan pesan moral yang tersirat. Apakah novel ini merupakan sindiran bagi orang-orang yang terlalu bersemangat mencari ilmu hingga lupa untuk menyampaikannya? Seperti tokoh Hamzah yang terlalu asyuk mengembara dan belajar hingga tak pulang-pulang hingga sepuluh tahun (Bang Toyib pun kalah). Apakah novel ini juga ingin menunjukkan bahwa akhlaq seseorang bukan berdasarkan keturunan melainkan hasil didikan keluarga dan lingkungan? Seperti tokoh Chi Twoa yang berperangai buruk padahal ia merupakan putra Teungku Chik yang sangat alim dan istrinya Maimunah perempuan cantik dan berakhlaq baik. Entah. Yang jelas novel ini lumayan menarik karena bisa memaksaku membaca hingga akhir.

4 komentar:

  1. kirimi bukune gelem yu, tek dongakna olih bojo eman pokoke...

    BalasHapus
  2. kirimi bukunya donk mba hihiiiii

    BalasHapus
  3. Akhir'a.. k'mila nulis juga ttg novel ini..
    Btw, suka bagian yg Gam Manyak sama istri'a.. hehe so sweeet :D
    Ok kak, dari paragraf terakhir bisa disimpulkan kl buku ini baik utk dimiliki.

    BalasHapus
  4. @ Rawins:
    lah, arep ndongakna kok ngenteni dikirimi buku disit...

    @ chikarei:
    wah, ongkirnya mahal :p

    @ Karzel:
    tertarik buat baca?

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.