Sinis. Itulah yang kurasakan dari pendapat mereka tentang PNS. Saat mereka berkata hidup mereka indah dengan kebebasan dalam bekerja, tak perlu memakai seragam, tak terikat jam kerja, aku setuju. Tapi, saat mereka mulai mengarah untuk memojokkan PNS dengan membuat persepsi bahwa "PNS itu tidak bebas, tidak menikmati hidup", jujur, aku sangat meradang. Bukan kata-kata "tidak menikmati hidup" yang membuatku kesal. Cara berpikir mereka yang membuatku emosi. Untuk bisa "merasa menikmati hidup" bukan berarti harus berpikir bahwa orang-yang-tidak-sejalan-dengan-kita adalah orang yang tidak menikmati hidup. Untuk menjadi seorang "wirausahawan" yang menikmati hidup, tak perlu "menuduh" PNS tidak menikmati hidup, kan? Masing-masing orang punya cara untuk menjalani, menikmati, dan mensyukuri hidup. Yang lebih menyebalkan lagi adalah kata-kata yang menganggap bahwa mereka yang bertahan menjadi PNS adalah mereka yang tidak berani keluar dari zona nyaman. Haruskah menghakimi pilihan seseorang? Tak bisakah menghormati pilihan orang lain? Silakan menganggap bahwa pilihan jalan hidupnya, termasuk untuk tidak menjadi PNS, adalah benar. Namun, amat sangat tidak bijak bila demi membenakan pilihan sendiri lantas menyatakan bahwa pilihan orang lain salah. Ini sebuah pilihan di mana setiap orang punya alasan masing-masing.
Mungkin PNS memang "terikat", seperti kuli istilah kasarnya. Berangkat pukul delapan pagi pulang pukul lima sore. Namun, apakah seorang kuli tak punya kebebasan? Salah besar. Ada banyak temanku yang tetap bisa berkreasi meskipun mereka PNS. Ada yang bisa membuat software yang diikutsertakan dalam INAICTA. Lalu, PNS tak berani keluar dari zona nyaman. Sekarang kubalikkan posisinya, apakah mereka yang bukan PNS sendiri sudah benar-benar keluar dari zona nyamannya? Aku tidak yakin. Bekerja tanpa jadwal tertentu, tanpa tekanan, tanpa batasan pendapatan, tidakkah itu juga bisa dikategorikan zona nyaman (setidaknya bagi mereka)? Lalu, korupsi? PNS memang sudah dicap identik dengan korupsi. Tapi, apakah semua PNS korupsi? Tidak juga> Sekali lagi kubalikkan posisinya. Apakah yang bukan PNS dijamin tidak korupsi? Pedagang yang mengurangi timbangan, menyembunyikan cacat dagangannya, merugikan pembeli, apa itu bukan korupsi? Ya, korupsi PNS memang dianggap lebih besar dosanya karena menyangkut uang rakyat. Tapi, tak semua PNS korupsi. Masih banyak yang "bersih". Lagipula, masalah korupsi, misalnya suap-menyuap, bukan cuma PNS yang berperan. Dalam kasus yang marak belakangan ini, yang dikatakan "busuk" hanya penerima suap, yang notabene PNS. Dan semua PNS pun dianggap "busuk". Dan pengusaha (yang BUKAN PNS) yang menyuap, tak membuat masyarakat berpikir bahwa "semua pengusaha itu busuk".
Pendapatku ini bukan untuk menyudutkan non-PNS. Aku hanya ingin orang-orang dapat lebih ADIL dalam menilai. Dan aku juga berharap tak banyak orang yang berpikiran seperti temanku itu. Bukan, bukan pikiran negatif tentang PNS yang kumaksud. Yang ingin kutentang dalam hal ini adalah pikirannya yang bangga menjadi "bukan PNS" dengan merendahkan PNS. Silakan bangga dengan pekerjaan masing-masing, dan tetap hargailah pekerjaan orang lain dan keputusannya untuk memilih pekerjaan itu. Toh, sama-sama mencari rizki yang halal.

saling menghargai sajalah.
BalasHapusaku tek melu ndaptar pms bae yah, yu..
BalasHapus@ nurhayadi: mau saya juga begitu, saling menghargai, tapi kok banyak yang mencemooh PNS... jadi gedheg saya
BalasHapus@ Rawins: yen PMS tah aku malah emoh, menyiksa lho kang