Fiuuuhh! Umurku sudah dua puluh empat, bulan Juli nanti akan genap seperempat abad. Tapi, kenapa aku emosiku masih belum stabil? Kenapa aku justru seperti anak SMA? Mudah ngambek? Ya, aku memang begitu. Tapi, bukan itu yang kupermasalahkan. Pemarah? Iya juga. Tapi, lagi-lagi bukan itu yang kupermasalahkan. Selama ini aku memang mudah marah. Aku bisa membentak siapapun tanpa pandang bulu, meski biasanya kucoba menahan diri bila berhadapan dengan perempuan. Bisa mengekspresikan kemarahan, ketidaksukaan, kekecewaan dengan terbuka ternyata membuatku lebih nyaman. All out, begitulah aku selama ini. Namun, akhir-akhir ini, aku tak bisa mengekspresikan kemarahanku, inilah masalah emosi yang memusingkanku. Kenapa? Entah. Mungkin karena pernah ada yang berkata bila sikapku bisa menyakiti hati orang lain. Mungkin karena pernah ada yang memprotes sikapku yang galak dan judes. Mungkin karena aku takut orang-orang akan semakin membenciku. Mungkin juga karena aku merasa percuma ada yang peduli dengan kemarahanku. Mungkin. Dan akhirnya, aku justru merasa sesak. Aku tak tahu harus berteriak pada siapa. Hanya ada tembok. Dan laptop.
Masalah beberapa bulan ini memang membuatku mudah marah. Keadaan yang tidak jelas, tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menyelesaikannya, tak tahu kapan aku bisa melupakan semua rasa sakit itu, perasaan bahwa aku yang paling merasa sakit karena masalah ini dan tak ada yang peduli, semua menyatu membuatku gila. Aku tak tahu sebenarnya masalah ini sudah selelsai atau belum. Yang aku tahu, hatiku belum terasa ringan. Dan kau tahu, masalah apapun meski menurutmu kecil, kalau sudah membawa-bawa hati, tetap saja terasa berat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin mengulang waktu, sesuatu yang selalu menjadi hal tabu bagiku. Ingin sekali aku mengulang 5 Mei 2009 sampai Januari 2010. Ingin sekali aku menghapus kesalahanku yang sangat fatal: membuka hati dan membuka diri untuk pertama kalinya tapi justru pada orang yang salah, membiarkan dia menjadi orang yang paling dekat denganku. Salah, sangat salah. Sikapku yang terlalu membuka diri itu benar-benar kesalahan fatal. Tapi, mau bilang apa? WAKTU BERJALAN LINIER. Waktu takkan berputar balik. Cukup, paragraf ini telah membuatku melanggar janjiku untuk tak lagi bercerita masalah itu.
Rasa jenuh pada pekerjaan, rasa enggan mengurus server dan jaringan, keinginan untuk pindah yang tak terbendung, semua juga turut andil dalam membuatku semakin mirip dengan bensin, mudah terbakar. Dan ketika semua hal dan semua orang begitu mudah membuatku marah, aku justru tak bisa mengekspresikannya selain dengan menangis. Kalau tidak bisa menangis juga, entah apa yang terjadi pada kondisi kejiwaanku.
Haaaaahh! Rindu rasanya pada diriku yang dulu. Yang konyol, gila, ceria, penuh imajinasi ngawur, kekanakan. Yah, sisi kekanakanku yang dulu, yang begitu cuek menghadapi kehidupan, menguap entah ke mana. Yang tersisa justru sisi kekanakan yang sulit meredam emosi. Kenapa tahap pendewasaan diriku mesti begini? Entah. Kadang aku berpikir, "Being grown up is SO PAINFUL and SO TIRING". Yah, sudah jalannya seperti ini. Aku hanya bisa menjalani saja dan berharap mendapat solusi terbaik. Percaya saja pada Sang Sutradara Kehidupan.

Bismillah,,
BalasHapusRasulullah bersabda,, Laa Tagdhab,,
jangan marah,, jangan marah,, jangan marah
smagadhh,,