Selasa, 18 Januari 2011

Ingin Pindah

"Menurutmu, apa mending aku pindah aja?" tanyaku pada Ndaru. Dan dia menjawab, "Jangan mengambil keputusan saat marah, jangan pula mengambil keputusan saat senang." Kalimat yang beberapa kali dijadikan status F*c*b**k oleh kawan-kawanku. Benar juga sarannya. Saat ini aku sedang kalut, sedang sedih, sedang marah. Tak bijak bila aku mengambil keputusan ketika aku sedang dikuasai emosi.

Namun, itu bukan kali pertama aku berpikir untuk pindah. Sejak beberapa bulan lalu aku sudah memikirkan itu sebagai jalan terakhir. Dan saat aku tenang pun, aku tetap menjadikan pilihan itu sebagai alternatif. Selain waktu, jarak juga bisa mempercepat penyembuhan. Di samping itu, bila aku pindah ke provinsi, mungkin aku bisa menambah kegiatan lain yang lebih berguna ketika akhir pekan dan bisa mengalihkan pikiranku dari kenangan buruk. Aku bisa saja mengambil kursus bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Atau, bila beruntung, bisa saja aku kuliah lagi. Di banda Aceh, kan, universitasnya lebih bagus dibandingkan di Blangpidie. Dan bila aku pindah ke provinsi, aku bisa lebih mudah untuk pulang kampung, karena jarak ke bandara dekat.

Namun, saat ini yang kubutuhkan adalah keberanian mengambil RESIKO. Tak ada yang menjamin aku bisa mendapat bos sebaik bosku sekarang. Dan bila di provinsi absensi lebih ketat sehingga waktu pulang kampung pun tak bisa terlalu lama. Tapi, sepertinya aku harus berani mengambil resiko itu. Daripada semuanya semakin buruk. Ibarat gelas, saat ini hatiku sudah benar-benar retak dan ada di tepi meja. Bila tidak dipindahkan ke tengah, bisa-bisa jatuh dan hancur berkeping-keping. Oh, bukan berkeping-keping lagi melainkan hancur seperti debu. Ayo, Millati! Kumpulkan keberanianmu mengambil resiko!

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.