Selasa, 04 Januari 2011

Libur = Makan

Liburan kali ini benar-benar perbaikan gizi bagiku. Setelah selama beberapa bulan kehilangan selera makan, begitu tiba di rumah menjelang tengah malam, aku langsung berkata pada ibuku, "Ngelih," alias lapar. Sepiring nasi putih dengan lauk telur asin kumakan dengan lahap. Dan seperti biasa, ibuku selalu memandang dengan takjub. Sepertinya sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu bila melihat anaknya doyan makan. Yah, dari dulu aku memang doyan makan, dan kalau sudah tak doyan makan berarti ada yang tidak beres. Mungkin, bila melihatku makan dengan lahap ibuku menganggap aku baik-baik saja (meski sebenarnya hatiku sedang porak poranda, tapi tak perlulah ibuku tahu).

Di rumah, aku bisa makan makanan berat berkali-kali. Pagi sarapan ponggol atau sega lengko, jam 9 kelaparan lalu makan ketan pencok, lalu bila lapar lagi makan dengan lauk bumbon, terus siangnya makan dengan lauk yang dimasak ibu. Benar-benar perbaikan gizi. Dan ibuku juga hampir selalu mengabulkan permintaanku yang kadang neko-neko. Sewaktu aku bilang ingin sambel tela, eh, besoknya ibuku membeli lengguk (daun ketela rambat) dan ubi (ketela rambat) untuk sambalnya. Aku kebagian tugas meng-uleg sambal yang bahan-bahannya: ubi yang sudah dikukus, cabai, garam, asam jawa, gula jawa, dan terasi. Kata mbak-ku sambal buatanku itu lumayan. Wah, berarti meski aku malas memasak aku tetap berbakat memasak. Aku tidak terlalu suka lengguk-nya tapi sambalnya mantap, pas sekali untuk makan mie goreng wedi (kerupuk yang bentuknya seperti jaring yang digoreng dengan pasir).

Sewaktu jalan-jalan dengan keluarga ke PAI (Pantai Alam Indah) di Tegal, kami makan soto tegal. Lumayan enak. Dan ketika jalan-jalan ke Rita Mall dengan adik dan sepupuku, pulangnya kami makan tahu gejrot, jajanan semasa kecil yang sudah bertahun-tahun tak mampir di perutku. Waktu di tempat budhe-ku, kami beli gado-gado yang juga enak.

Yah, begitulah. Bila di rumah, makanan apa saja terasa enak. Bila jauh dari rumah, selalu saja ada yang kurang. Dan sekarang, di Blangpidie ini, rasanya tak ada makanan enak. Selera makanku kembali hilang. Haduuuh!

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.