Rabu, 05 Januari 2011

Liburan = Baca Novel

Selama liburan kemarin, kegiatanku -selain makan, tidur, menonton televisi, jalan-jalan, dan bermanja-manja dengan ibuku- adalah membaca novel. Ketika berjalan-jalan ke Karisma di Rita Mall dengan adik dan sepupuku, aku tertarik membeli dua buah novel: The Railway Children dan Negeri 5 Menara. Aku memilih The Railway Children karena aku sedang ingin membaca cerita anak-anak. Menurutku, cerita anak-anak biasanya penuh semangat. Sedangkan Negeri 5 Menara kubeli karena... Karena apa, ya? Yah, menurut perkiraanku (perkiraan ngawur karena aku belum pernah membaca resensinya), buku tersebut penuh motivasi, cocok bagi orang yang sedang down sepertiku.

The Railway Children
Novel ini mengisahkan tiga bersaudara Roberta, Peter, dan Phyllis. Di sampul belakang buku ini diceritakan bahwa kehidupan mereka berubah setelah ayah mereka pergi. Aku pun menduga bahwa ayah mereka menikah lagi sehingga lupa pada mereka. Karena waktu itu aku sedang berorientasi akhir, setelah membaca beberapa halam depan, aku pun memutuskan langsung membaca halaman belakang. Di situ diceritakan bahwa sang ayah dipanggil seorang anak bernama Bobbie lalu mereka masuk ke dalam rumah. Sang narator mengatakan bahwa kehadiran kita atau siapapun tidak diharapkan di rumah itu. Aku pun langsung berpikir, "Oh, ayahnya mungkin sudah menikah lagi dan punya anak bernama Bobbie." Benarkah demikian? Setelah aku membaca ceritanya dengan lengkap dari awal hingga akhir, terbantahkan semua hipotesisku. Ternyata Bobbie adalah nama panggilan Roberta. Jadi? Jadi begini... Menjelang akhir cerita dikisahkan bahwa ternyata sang ayah difitnah sehingga dipenjara. Di akhir cerita ia dibebaskan dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Jadi, ceritanya tentang sang ayah yang dipenjara? Oh, tidak. Tokoh utama dari cerita ini adalah ketiga anak yang disebut pertama tadi. Novel ini menceritakan pengalaman mereka ketika ditinggalkan sang ayah. Mereka yang semula kaya, mendadak miskin dan harus pindah ke sebuah rumah kecil dengan tiga cerobong asap (sering disebut Pondok Tiga Cerobong) yang dekat dengan stasiun kereta api. Akhirnya stasiun dan lintasan kereta api tersebut menjadi tempat bermain mereka. Bicara soal miskin, apakah mereka menyadari bahwa mereka miskin? Tidak. Mereka masih bisa makan dengan cukup, pakaian mereka masih pakaian yang selama ini mereka kenakan, semua itu membuat mereka menganggap kondisi mereka masih sama seperti dulu. Mereka baru menyadari perbedaan kondisi setelah menjalani musim dingin dan tak bisa menyalakan perapian karena harus berhemat batu bara.
Dalam cerita ini digambarkan bahwa sebenarnya kadang anak-anak mengetahui orang tua mereka sedang bersedih. Seperti Bobbie yang cukup peka untuk mengetahui bahwa ibunya sangat sedih dan memilih untuk tidak bertanya apa-apa tentang keberadaan ayahnya agar ibunya tidak semakin sedih. Ia dan adiknya berusaha untuk tidak menambah kesedihan ibunya dengan bersikap manis dan tidak bertengkar (meski pada akhirnya sering terjadi pertengkaran antara mereka bertiga).
Sebagaimana lazimnya cerita anak-anak, novel ini tidak terlalu mempermainkan emosi. Namun, cukup seru karena menggambarkan bagaimana anak-anak menghadapi kesulitan sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Negeri 5 Menara
Sudah banyak yang membaca novel ini dan sudah banyak pula yang menulis resensinya. yup, novel ini memang termasuk best seller. Sebuah novel yang mengisahkan kehidupan para santri di sebuah pesantren modern, pesantren di mana semangat mencari ilmu selalu bergaung di setiap sudutnya. Alif, tokoh utama dalam cerita ini, 'terpaksa' masuk pesantren karena ibunya berharap dia mempelajari agama, bukan sekolah di sekolah umum seperti SMA. pertentang antara cita-cita dan kehendak orang tua. Di pesantren, Alif bertemu dengan kawan-kawan dari berbagai suku dengan berbabai karakter. Ada yang begitu cerdas dan semangat belajar seperti Raja dan Baso, ada yang begitu positif memandang kehidupan seperti Said.
Ada satu bagian yang kusuka yaitu ketika Kiai Rais memberikan nasihat kepada para santri baru. Begini kalimatnya:
"Seorang wali murid pernah memberi nasehat kepada anaknya yang sekolah di PM. Anakku, kalau tidak kerasan tinggal di PM selama sebulan, cobalah tiga bulan, dan cobalah satu tahun. kalau tidak kerasan satu tahun, cobalah tiga atau empat tahun. Kalau sampai enam tahun tidak juga kerasan dan sudah tamat, bolehlah pulang untuk berjuang di masyarakat. Ini namanya percobaan yang lengkap."
Nasihat itu semestinya bisa diterapkan juga dalam kasusku. Bila selama setahun aku tidak betah di Blangpidie, aku perlu mencoba dua tahun. Bila tak betah juga, cobalah tiga tahun. Begitu seterusnya, sampai masa aku boleh mengajukan pindah. Tapi, bisakah aku menjalani percobaan yang lengkap? Entah. Semoga saja bisa.
Ada satu bagian lagi yang aku suka yaitu ketika Dul memberitahukan apa yang membuat Ustad Torik mengizinkan para santri untuk menonton siaran langsung pertandingan bulu tangkis semifinal Piala Thomas sedangkan selama ini menonton televisi adalah hal yang terlarang. Ternyata Dul berkata pada Ustad Torik, "Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan punya Icuk dan smes antum mirip Liem Swie King." Ketika Ustad Torik menunjukkan ekspresi tidak percaya, Dul pun berkata,"Kalau gak percaya, kita tonton siaran langsung besok malam." Ajaib. Berkat kalimat seperti itu, seluruh santri bisa menikmati kesempatan menonton siaran langsung. Kekuatan kata-kata memang tidak terduga.

Autumn in Paris
Lho, lho, lho? Katanya cuma beli dua novel? Ya, aku memang cuma beli dua. Tapi, ada satu novel lagi yang kupinjam dari sepupuku. Maklum saja, dalam tempo kurang dari empat hari kedua novelku sudah kutamatkan. Awalnya aku tidak ingin membaca novel tentang cinta karena aku sedang amat sangat alergi dengan cerita cinta dan romantika yang mustahil terjadi dalam hidupku. Namun, sepupuku hanya punya novel-novel tentang cinta. Apa boleh buat.
Tokoh sentral dalam novel ini adalah Tara, seorang gadis blasteran Indonesia-Prancis. Dia tinggal bersama papanya di kota Paris. Awalnya dia menyukai Sebastian, sahabatnya yang flamboyan. Lalu, ia berkenalan dengan teman Sebastian yang bernama Tatsuya Fujisawa. Sebenarnya sebelum diperkenalkan dengan Tara, Tatsuya sudah pernah bertemu Tara dua kali, tapi Tara tak menyadarinya. Dan Tatsuya sudah tertarik padanya sejak pandangan pertama. Saat pertama melihatnya, Tara memberinya nilai tujuh setengah. Begitu mendengar Tatsuya bisa menyebut namanya dengan benar (berbeda dengan kebanyakan orang Prancis yang menyebut huruf 'r' dengan kurang pas di telinganya), nilainya pun meningkat menjadi delapan. Dan ketika Tatsuya menyebutkan bahwa dirinya tak pilih-pilih makanan, nilainya pun meningkat lagi menjadi delapan setengah.
Singkat kata, mereka berdua pun saling jatuh cinta, meski belum ada pernyataan masing-masing. Selanjutnya? Sangat tipikal cerita sinetron Indonesia dan telenovela... Dikisahkan bahwa ternyata mereka berdua adalah saudara satu ayah. Dan kisah ini ditutup dengan meninggalnya Tatsuya di tempat kerjanya. Sadis memang. Namun, bila dipikir-pikir, akhir yang tepat dan mudah (menurutku) memang mematikan salah satu tokoh, entah Tara atau Tatsuya. Rasanya sulit mengubah perasaan cinta yang sudah mendalam menjadi rasa sayang sebagai kakak adik. Kalaupun tidak mematikan salah satu tokoh, akhir yang mudah lainnya adalah memisahkan mereka berdua selamanya, misal Tara kembali ke Indonesia dan Tatsuya kembali ke Jepang.
Ada satu kalimat Tatsuya yang kusuka. "Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi". Yah, begitulah hidup, kadang membuat kita melayang, merasa segalanya sempurna, kadang ia membuat terpuruk. Kehidupan memang tak pernah berhenti berputar, kan?

4 komentar:

  1. haha. aku udah baca novel negri lima menara. emang bagus. menginspirasi. jadi penasaran sama buku keduanya nih. yg ranah 3 warna.

    oh iya, novel nya doni D yg "5 Cm" juga bagus lho. udah baca belom? haha.

    BalasHapus
  2. @ Rizaldy Gema Prayudha:
    Kalo 5 cm mah udah baca dari tahun lalu... Lumayan gokil juga sih.. Kayaknya aku udah nyebut novel 5 cm di postinganku yang judulnya Ngelindur Tentang Cinta deh...

    BalasHapus
  3. Kalo aq gak begitu suka ama novel,aq suka nya komik he...he..
    Lam knl sobat,aq follow blog mu

    BalasHapus
  4. @ Wong Sikampuh:
    Saya suka juga sama komik, tapi lagi gandrungnya sama novel sekarang.

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.