Sabtu, 15 Januari 2011

Marley and Me

Pernah memiliki hewan peliharaan? Aku tidak pernah. Dulu, sewaktu kecil aku memang suka bermain dengan kucing, tapi tidak memeliharanya. Beberapa tahun lalu orang tuaku juga memelihara banyak ayam, dan bukan aku yang mengurusnya. Jadi, aku tak tahu bagaimana rasanya memiliki hewan peliharaan dan tidak berniat memelihara hewan. Dan setelah menonton Marley & Me, aku pun semakin meneguhkan hati bahwa aku tidak akan memelihara hewan. Bukan, film ini bukan menjelek-jelekkan hewan. Namun, setelah menonton ini aku jadi semakin berpikir bahwa aku tidak punya cukup kesabaran dan kasih sayang untuk merawat hewan. Menghadapi kucing peliharaan temanku saja sudah sering membuatku bertindak kejam dengan melemparnya beberapa kali karena dia dengan semena-mena nangkring di ember berisi pakaian kotorku.
Hmm, jadi ini film tentang hewan peliharaan? Kucing? Bukan. Marley adalah nama seekor anjing. Anjing yang mengerikan, horrible kata pemiliknya, John dan Jenny. Anjing yang rakus, suka menggigit dan mengunyah apa saja, mulai dari lantai, dinding (bukan dinding beton pastinya), kursi, bantal, semuanya. Dia juga anjing yang tidak bisa diatur, tidak bisa diam, pokoknya merepotkan. Jadi hanya begitu ceritanya? Baiklah, akan kuceritakan dengan sedikit lebih lengkap.
Kisahnya dimulai ketika John dan Jenny menikah. Setelah beberapa lama menikah, John merasakan gelagat bahwa Jenny ingin memiliki anak. Berhubung John belum memiliki anak, atas saran Sebastian, teman John, dia memberi kejutan pada Jenny dengan memberikannya anak anjing. Agar ada yang dirawat oleh Jenny selain John, begitu kata Sebastian.
Beberapa waktu kemudian, John berpikir bahwa sebenarnya dia tidak punya alasan untuk tidak memiliki anak. Ketika memiliki anak pertama, belum terlalu bermasalah. Namun, ketika anak kedua lahir, Jenny mulai sering marah-marah karena kelelahan mengurus satu orang balita dan satu orang bayi ditambah gangguan anjing peliharaannya. Marley membuat anak kedua Jenny dan John, Connor, tidak bisa tidur akibat gonggongannya dan menabrak Pattrick, anak pertama mereka, dua kali dalam sehari. Pertengkaran demi pertengkaran tak bisa dielakkan. Sebastian sudah memberi saran yang mengarah pada perceraian tapi John berkeras bahwa mereka masih bisa menyelesaikannya, tanpa bercerai. Dan Jenny pun berpikiran sama. Mereka memutuskan menyelesaikan pertengkaran mereka, tanpa bercerai, dan tanpa menyingkirkan Marley. Kalau aku ada di posisi mereka, aku pasti memilih untuk memberikan Marley pada orang lain atau mengirimnya ke penampungan hewan liar (jahat, ya...).
Akhir dari film ini mudah ditebak. Marley mati. Yah, usia anjing memang rata-rata lebih pendek dari usia manusia, kan? Awalnya, ususnya terbelit dan dia terselamatkan setelah dioperasi. Namun, pada kali keduanya, ia tak bisa diselamatkan lagi. Ia sudah terlalu lemah untuk dioperasi. Meskipun menyebalkan, Marley sudah dianggap seperti keluarga oleh John dan keluarganya. Anak-anaknya sedih, terutama Pattrick, karena di yang paling lama mengenal Marley.
Bagian yang paling kusuka adalah dialog setelah Jenny memberitahu John bahwa dia hamil anak kedua. Jenny memutuskan berhenti bekerja, meskipun John menawarkan untuk menyewa pembantu. Katanya, "Aku tidak ingin seperti orang-orang yang melihat bayinya 1 jam saat malam." Waw! Dia memiliki pekerjaan yang ia sukai dengan karir yang juga bagus dan memutuskan berhenti karena ingin fokus mengasuh anak. "Saat di kantor, aku ingin berada di rumah. Saat aku di sini (rumah), aku terus memikirkan pekerjaan," kata Jenny. Benar-benar dilema ibu bekerja. Menurutku, keputusanny sangat berani. Aku tak yakin aku berani mengambil keputusan seperti itu. Bila kemudian aku harus berhenti bekerja di kantorku yang sekarang, minimal aku harus menginvestasikan uangku agar aku tetap punya penghasilan tetap meskipun tak banyak. Siapa tahu nanti suamiku pelit dan aku harus memenuhi sebagian kebutuhanku dengan uangku sendiri? Semoga saja tidak...
Aku juga suka ketika John memutuskan pindah dari kantornya demi mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan, reporter. Di kantor lamanya, John mendapat tugas menjadi kolumnis dengan gaji lumayan dan bos yang sangat bersahabat. Dia melepaskan semua itu demi menjadi reporter. Aku tak yakin berani mengambil keputusan itu. Satu alasan terkuatku tak mengajukan pindah adalah bos. Aku tak yakin akan mendapat bos sebaik ini di tempat baru. Bila tak memikirkan itu, sepertinya sejak beberapa bulan lalu aku sudah minta pindah ke provinsi. Lho, kok malah curhat? Baik, kembali ke cerita. Apakah John senang dengan pekerjaan barunya? Sayang sekali, tidak. Ternyata dia lebih menikmati menulis kolom daripada menulis artikel. Ketika menulis kolom, di bercerita dari sudut pandangnya. Dan ketika menjadi reporter, bos barunya menuntut dia untuk sama sekali "tidak berada dalam tulisan tersebut". Yah, memang begitulah berita. Harus berdasarkan fakta, bukan opini.
Jadi,film ini bagus atau tidak? Lumayan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.