Senin, 17 Januari 2011

Mencla Mencle!

Mencla mencle! Plin plan! Mental tempe, pagi kedele siang tempe! Semua makian itu ingin sekali kusemburkan di depan mukanya. Tak peduli aku perempuan yang KATANYA harus lembut. Tak peduli aku orang Jawa yang kebanyakan memang lembut. Mencla mencle. Ya, dia memang begitu. Waktu awal mengerjakan publikasi, sebuat saja publikasi A, aku membuat file terpisah untuk masing-masing bab. Lalu, ketika hampir cetak dia memintaku menyatukan semua dalam satu file. Awalnya kubuat satu file MS Word biasa. Namun, karena halamannya berbeda, akhirnya masing-masing halaman kubuat image dengan menggunakan Microsoft Document Manager terlebih dahulu lalu kugabung di MS Word. Kupikir masalah sudah selesai. Ternyata ada beberapa kesalahan yang harus diperbaiki. Kau tahu? Dia menyuruhku menggunakan file gabungan awal (yang bukan dari image) karena katanya yang bertugas mencetak lebih sreg dengan format yang belum jadi image sehingga bisa diedit. Baiklah. Lagi-lagi aku menurut. Aku pun mengedit file gabungan yang dimaksud. Besoknya dia memberitahu perbaikan lainnya. Dan kau tahu? Dia menyuruhku menggunakan file yang TERPISAH tiap babnya. Grrrrrrrr!!! Meski kesal dengan sikapnya yang mencla mencle, sikap yang membuatku harus kerja dua kali alias mindo gaweni dan membuat pekerjaanku sebelumnya muspra alias SIA-SIA, tetap kukerjakan.

Beginilah nasib bila berhadapan dengan subject matter yang tak jelas maunya. Lho, kok jadi seperti system analist? Yah, memang mirip kasusnya. System analist bisa kerepotan bila berhadapan dengan subject matter yang keinginannya berubah-ubah. System requirement pun berubah-ubah terus. Kalau system analist tidak memberi batasan dengan jelas, bisa-bisa kemauan subject matter berubah dan bertambah. Ah, kok jadi membahas ini?

Lalu, selesaikah setelah file yang terpisah itu dikirim? Ternyata tidak. Tadi pagi dia memberitahu bahwa pihak yang mau mencetak meminta file PDF-nya. Lho, itu mudah, kan? Mudah gundulmu!!! Kalau langsung convert dari MS Word ke PDF memang mudah. Tapi, hasilnya tidak terlalu bagus. Jadi aku harus mengubah semua halaman di file menjadi image dulu. Setelah semua kuubah menjadi format TIF, aku berniat langsung menggabungkan semua file itu menjadi satu file PDF. Tapi, ternyata gagal. Sepertinya tidak mendukung format TIF, sepertinya... Aku pun mulai senewen. Kenapa tidak dari dulu mintanya? Kenapa harus berubah-ubah beberapa kali? Kalau begini terus, kapan selesainya? Bagaimana bila bos melihatku masih mengerjakan pekerjaan yang mestinya sudah dicetak bulan lalu? Semua pertanyaan itu berputar di kepalaku. Karena tak bisa menahan marah, ujung-ujungnya aku menangis. Kalau ada yang mengatakan air mata tak ada gunanya, ketahuilah, bila aku tidak menangis pasti aku melampiaskan emosiku dengan cara lain yang mungkin bisa membahayakan keselamatan orang lain. Cukup marah-marahnya. Karena gagal, aku pun terpaksa meng-copy paste semua file image ke MS Word baru kemudian meng-convert-nya ke PDF.

Marahku belum habis, ada satu lagi yang membuatku senewen. Saat aku pusing mengerjakan yang dia suruh, dia malah asyik bercanda dengan teman-teman. Sungguh TERLALU!!! Sejenak aku merasa kehidupan amat sangat tidak adil. Di sini aku menangis karena pusing dan marah, dia malah enak-enakan tertawa. Tapi, sudahlah. Memang benar kata pepatah, "tertawalah maka dunia akan tertawa bersamamu, dan bila kamu menangis maka kamu akan menangis sendirian". Yah, kenyataannya aku memang menangis sendirian.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.