Di sebuah terminal
Penumpang 1: Mbak, bus yang ke kota A ada?
Penjaga loket: Ada, Mas, itu busnya udah hampir berangkat, yang warna ijo.
Penumpang 2: Mbak, bus yang ke kota B ada?
Penjaga loket: Ada, Mbak, tapi datengnya satu jam lagi.
Penumpang 3: Bus ke kota C mana, ya, Mbak? Belum dateng?
Penjaga loket: Wah, 5 jam lagi baru dateng, Bu...
Penumpang 4: Mbak, bus ke kota D, kok, nggak dateng-dateng?
Penjaga loket: Tadi ada kecelakaan di tol jadi macet. Saya juga nggak tau datangnya berapa jam lagi. Tapi pasti dateng.
Penumpang 5: Mbak, bus ke kota E adanya jam berapa?
Penjaga loket: Wah, kurang tahu, Mbak. Saya aja nggak yakin bus itu dateng ke terminal ini ato nggak.
Penumpang 1 benar-benar beruntung. Ketika dia mencari, langsung ketemu bus yang dicari dan langsung akan berangkat. Sayang sekali, aku bukan penumpang itu.
Penumpang 2 juga beruntung. Jika menjadi dia, aku pasti mau menunggu. Toh, cuma satu jam. Yang penting aku tahu bahwa yang kutunggu sebentar lagi datang. Tapi, sayangnya, aku juga bukan penumpang itu.
Penumpang 3 masih beruntung. Meski harus menunggu agak lama, paling tidak dia tahu berapa lama harus menunggu. Dan, lagi-lagi, penumpang itu bukan aku.
Penumpang 4 masih sedikit beruntung. Jika menjadi dia, mungkin aku bisa menyabarkan diri untuk menunggu. Setidaknya aku tahu bahwa yang kutunggu akan datang meski aku tidak tahu kapan. Yang jelas, yang kutunggu memang benar-benar nyata dan layak ditunggu.
Penumpang 5. Dialah aku. Bila menggunakan logika, seharusnya aku tak menunggu bus yang kumaksud. Buat apa menunggu? Bila aku tahu yang kutunggu akan datang, wajar aku menunggu. Namun, dalam kasus ini, jangankan tahu kapan yang kutunggu akan datang, aku bahkan sama sekali tak tahu yang kutunggu akan datang atau tidak. Apakah aku memutuskan untuk pulang? Bodohnya, aku masih menunggu. Hingga detik ini. Dan aku berharap ada seseorang, siapapun itu, datang untuk menghentikan kebodohanku ini. Aku berharap akan datang seseorang, siapapun itu, untuk menyeretku pergi dari terminal, untuk pulang atau mengajakku naik bus lain. Aku butuh seseorang untuk menyadarkanku bahwa tak selayaknya aku menunggu hal yang sia-sia. Teman, bangunkan aku dari mimpi panjang ini...

menunggu memang terkadang jenuh dan terkadang menyebalkan, hehe....
BalasHapussalam kenal
mb milati g sabar mw nikahhh iiia???
BalasHapussemuga allah memberikan yg tebaik untk mba.
tetp smngadd iia!!