Selasa, 04 Januari 2011

Pulang Sendirian

23 Desember 2010, sekitar pukul 16.30 WIB
Aku baru pulang dari swalayan membeli keperluan perempuan. Saat memasukkan anak kunci ke lubang kunci... Lho! kok, tak bisa dibuka? Kok, alot? Lalu aku pun menambah energi yang kukerahkan untuk membuka kunci, dan... PATAH. Apanya yang patah? Bagian lubang kunci. Jadi? Yah, jadi kuncinya tak bisa kubuka. Setelah beberapa kali memaksa dan gagal, akhirnya aku minta tolong pada Kak Dewi, tetangga depan, untuk mendobrak pintu. Ternyata katanya pintu itu terlalu kuat. Kami mencoba mendobrak pintu belakang. Sama saja. kak Dewi pun menyarankan untuk minta tolong pada tukang kunci saja di dekat Arena Motel. Aku pun segera ke sana. Ternyata tukang kuncinya sedang tak di tempat. Setelah ditelepon istrinya, si tukang kunci pun datang. Aku menjelaskan masalah pintuku. Kami pun meluncur ke rumah.
Sampai di rumah, ternyata bagian lubang kunci yang dibawa si tukang kunci tak muat. Harus beli yang lain, padahal sudah sore dan aku harus segera bersiap-siap pulang kampung. Akhirnya si tukang kunci pergi untuk membeli dengan harapan masih ada toko yang buka. Selama dia pergi aku pun mandi. Ternyata si tukang kunci berhasil mendapatkan yang dibutuhkan. Dia segera mengerjakan tugasnya dengan cepat dan cekatan. Satu hal yang kukhawatirkan: pintu belum selesai diperbaiki sampai waktu aku berangkat, ternyata tidak terjadi. Alhamdulillah. Aku mengucapkan "terima kasih banyak" pada si tukang kunci dengan berusaha menunjukkan betapa akui berterima kasih atas bantuannya. Dan untungnya aku tak panik jadi tadi tak menangis.

23 Desember 2010, ba'da Maghrib
Barang-barangku sudah kubereskan. Jemuran sudah kulipat sekenanya dan sudah kumasukkan ke lemari. Tas ransel yang akan kubawa pulang juga sudah penuh. Aku masih menunggu mobil jemputan. Katanya habis Maghrib, tapi ini sudah hampir 'Isya, kok, belum datang? Aku pun pergi ke terminal ke loket tempat aku membeli tiket. Katanya sudah dijemput. Aku pun kembali ke rumah. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara mobil tapi bukan di depan rumahku melainkan agak jauh, dekat SD. Usut punya usut, ternyat itu mobil yang akan menjemputku. Karena kukatakan rumahku dekat SD, sopirnya menyangka rumahku di depan SD tersebut.
Setelah aku naik, mobil pun meluncur. Kali ini aku meninggalkan tempat ini dengan hati yang amat pedih. Bila sebelumnya aku selalu berharap untuk kembali, kali ini aku benar-benar ingin agar aku tak perlu kembali lagi ke Blangpidie. Untungnya lampu di dalam mobil selalu dimatikan, jadi tak ada yang melihatku menangis.
Di tengah perjalanan aku teringat bahwa KTP-ku tertinggal di tas yang biasa kupakai ke kantor. Matilah. Bagaimana nanti bila diminta menunjukkan identitas ketika di bandara? Aku pun memikirkan kartu identitas lain. Oh, iya, karpeg. Aku juga masih punya KTP lamaku. Semoga saja tak dipermasalahkan bila menggunakan KTP yang sudah kadaluarsa. Aaah, ada-ada saja masalahku.

24 Desember 2010, pagi hari di Medan
Tujuanku adalah tempat kos Caca di Glugur. Aku harus mengambil tiketku. Ternyata sulit juga menemukan kosnya. Ditambah lagi jaringan yang aneh. Saat aku menelepon ke nomor Caca dengan awalan 081 ternyata tak tersambung ke nomornya tapi entak ke mana. Baru setelah yang terakhir aku menggunakan nomor +6281 bisa tersambung. Akhirnya ia pun memberitahukan pada sopirnya jalan menuju kosnya. Sampai di kosnya aku mandi lalu makan. Kemudian, aku dengan "sok jujur"nya berkata pada Caca bahwa aku bingung bagaimana nanti bila sudah sampai di bandara Soetta. "Bodoh," itu yang terlontar dari mulut Caca. yah, aku memang belum pernah pergi sendirian naik pesawat. Kepulanganku kali ini memang amat sangat nekat. Setelah dijelaskan oleh Caca, aku pun berangkat ke bandara. Sampai di bandara aku pun check in. Ternyata selamat. Tidak ketahuan bila KTP-ku kadaluarsa. Alhamdulillah. Berhubung masih lama, aku pun ke kamar mandi. Tasku kutitipkan pada mbak-mbak CS yang sedang mengepel. Berhubung baterai ponselku sudah sekarat, aku numpang menge-charge ponselku di dekat pintu masuk toilet. Lumayan, lah... Setelah itu, ada panggilan pada para penumpang untuk pesawat yang akan kunaiki.

24 Desember 2010, sekitar pukul 09.45
Pesawat sudah siap take off. Aku langsung memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur karena takut mabuk. Di tengah-tengah penerbangan aku merasa agak mual. Aku pun mencari-cari kantung yang biasanya disediakan di kursi. Tidak ada. Aku pun bertanya pada kawan di sebelahku. Ternyata ada. Aku pun langsung memuntahkan isi perutku dengan suksesnya.

24 Desember 2010, sekitar pukul 11.45
Aku sudah di Jakarta. Aku pun keluar mengikuti orang-orang karena tidak tahu jalan, hehehe... Setelah di dekat pintu keluar bandara, aku bertanya pada petugas cara naik DAMRI. Dia pun menunjukkan halte DAMRI yang ternyata tak jauh dari pintu keluar. Aku pun segera ke sana dan membeli tiket jurusan Gambir. Tadinya kukira bus DAMRI bobrok, ternyata setelah naik... Lumayan! Sampai di Gambir, aku bingung. Maklum, terbiasa di stasiun kereta kecil. Aku pun bertanya pada salah satu satpam apakah masih ada tiket kereta Cirebon Ekspress hari itu. Dia malah menyuruhku antre di salah satu antrean. Karena takut mengantre dengan sia-sia (karena tiketnya ternyata habis), aku pun memutuskan bertanya ke Customer Service. Aku pun menanyakan kereta api yang berhenti di Tegal. Ternyata sudah banyak yang habis. Yang tersisa tinggal Cirebon Ekspress, Argo Jati, dans atu lagi aku lupa. Katanya tiket Cirebon Ekspress dan Argo Jati untuk pemesanan memang sudah habis, tapi untuk pembelian langsung masih ada. Aku pun langsung mengantre. Ternyata Argo Jati habis, tinggal Cirebon Ekspress. Dengan dudulnya aku membeli tiket eksekutif Cirebon Ekspress, padahal aku tak tahan AC.

24 Desember 2010, waktu tepatnya lupa, yang pasti setelah beli tiket
Aku bertanya pada satpam tentang angkutan umum ke Otista. Katanya kalau tidak ke Tugu Tani lalu naik Kopaja, ya naik TransJakarta atau lebih kondang disebut busway. Berhunbung halte busway lebih dekat daripada Tugu Tani, aku memilih naik busway. Setelah membali tiket busway, aku bertanya pada petugas tentang jurusan yang melewati Otista. Ternyata... TIDAK ADA. Katanya harus transti di Senen. Ya, sudahlah. Ketika ada busway berhenti, aku pun naik. Turun di Senen, lalu mengantre. Ketika ada satu busway berhenti, ada beberapa penumpang yang pindah ke antrean sebelahn lalu naik dan sebagian besar tetap di antrean. Aku pun ikut-ikutan pindah antrean dan naik busway tersebut. Di tengah perjalanan aku melewati sebuah tempat yang mirip halte Budi Utomo. Aku pun berpikir, "Wah, berarti bener ini ke PGC atau Kampung Melayu." Dodol. Mana mungkin busway dari Senen ke PGC atau Kampung Melayu melewati Budi Utomo? Bodoh sekali. Lalu aku mulai bingung ketika busway berhenti di halte Manggarai. Jauh nian... Aku pun bertanya pada mbak-mbak di sebelahku, "Ini mau ke mana, sih?" "Ragunan," jawab si mbak. Ow ow ow! Salah jurusan! Lalu aku pun menanyakan cara ke Kampung Melayu. Katanya turun di halte berikutnya lalu kembali lagi. Kemudian dia mengajakku turun di halte Pasar Rumput kemudian menjelaskan padaku untuk naik busway dengan arah berlawanan dengan tadi lalu transit di Matraman. Aku pun menunggu busway dan memperhatikan mbak itu dari jauh. Kupikir dia mau keluar halte. Tapi, ternyata dia menunggu busway ke arah yang sama dengan tadi. Jadi, tadi dia turun hanya untuk memberitahuku cara ke Kampung Melayu? Subhanallah...
Kemudian aku pun naik busway dan turun di Matraman II lalu ke Matraman I. Aku tak lagi asal-asalan naik busway. Setelah ada busway jurusan PGC, aku pun naik, lalu turun di halte Bidaracina. Kemudian aku berjalan menuju kos adik-adik tingkatku: Anggi, Alfi, dan Hesti.

24 Desember 2010, menjelang pukul 18.00
Setelah puas menculik Anggi untuk menemaniku beli mpek-mpek, aku pun kembali menculik Anggi untuk mengantarkanku ke Stasiun Jatinegara. Berhubung adik-adikku itu terlalu penurut, mau saja ia mengantarku. Setelah menunggu beberapa lama, kereta yang dinanti pun tiba. Ketika malam semakin dingin, aku pun mulai menyesali keputusanku memilih tiket eksekutif. AC-nya parah. Di dalam kereta aku kembali memikirkan masalahku. Aku benar-benar merasa buntu, sedih, perih, sepertinya tak ada jalan keluar selain melarikan diri dari Blangpidie. Sebagian hati berharap, setelah pulang ke Brebes, aku tak perlu kembali lagi ke Blangpidie.

24 Desember 2010, pukul 23.00
AKu sampai di Stasiun Brebes. Begitu keluar, sudah ada kakak iparku. Kami pun langsung ke rumah. Akhirnya, aku bertemu pelipur laraku, IBU...

2 komentar:

  1. wingi pesawate nyambung meng jogja, tek jujugna tekan brebes sisan aku dolan meng slawi...

    BalasHapus
  2. @ Rawins:
    duwe sedulur wong Slawi?

    BalasHapus

Silakan meninggalkan jejak berupa komentar, yang menunjukkan bahwa Anda pernah tersesat di blog ini.