Beberapa hari yang lalu aku diminta mengolah data SP2010 Kabupaten Aceh Barat Daya untuk mendapatkan Angka Partisipasi Sekolah menurut kelompok umur dan Angka Melek Huruf. Selama ini aku amat sangat jarang sekali menggunakan SPSS. Sewaktu kuliah aku hanya menggunakannya untuk uji kenormalan, regresi linier, regresi logistik, ANNOVA, dan sebagainya. Dan aku tidak pernah menggunakan syntax dalam SPSS. Jadi, meskipun aku tahu algoritma yang harus dijalankan, tetap saja aku gagap membuat syntax yang bahasanya saja belum kuketahui.
Karena bingung, aku meminta tolong pada Ndaru. Ternyata Ndaru juga tidak tahu tentang SPSS, maklum, 'pacar'nya selama ini adalah VB.NET. Dia pun menyarankan untuk bertanya pada Pepi. Syntax yang dikirimkan Pepi lumayan berhasil. Dia menggunakan recode. Jadi, variabel umur di-recode menjadi kelompok umur. Untuk umur 0 sampai 6, pada variabel kelompok umur nilainya menjadi 1. Untuk umur 7 sampai 12, pada variabel kelompok umur nilainya 2. Begitu seterusnya. Kemudian, dibuat tabel status sekolah menurut kelompok umur. DONE.
Selesai? Tidak. Karena aku adalah anak yang ndableg, aku mencoba-coba lagi. Aku tidak lagi menggunakan syntax. Iseng-iseng aku menggunakan menu Data - Select Cases dengan kondisi umur >= 7 & umur <=12 lalu menggunakan menu Analyze - Tables - Basic Tables dengan variabel umur untuk Row dan variabel status sekolah untuk Column. Hasilnya tabel status sekolah menurut umur. Jadi, aku bisa melihat anak usia 7 tahun yang belum/tidak bersekolah, sedang bersekolah, dan tidak bersekolah lagi. Aku tinggal menjumlahkan dari umur 7 sampai 12 tahun untuk mendapat data menurut kelompok umur. Karena menurutku tabel yang ini lebih lengkap dari hasil syntax sebelumnya, jadi yang kusimpan tabel ini. Dan untuk Angka Melek Huruf, aku menggunakan cara yang sama. Aku pun mencari AMH Latin 10 tahun ke atas dan AMH Lainnya 10 tahun ke atas. Untuk umur 15 tahun ke atas juga sama.
Dan Jumat sore kemarin Pak Budi menagih data itu. Dia pun bertanya, "Yang melek huruf udah digabungin huruf latin sama lainnya, kan?" Dueng dueng! Belum. Ternyata angka melek huruf itu penduduk yang bisa membaca huruf latin atau huruf lainnya. DODOL. Mestinya aku tahu itu. Akhirnya, raw data pun diutak atik ulang. Aku benar-benar gagap. Ketika ditanya apakah tabel APS yang kubuat sudah menurut kecamatan atau belum, kujawab tidak. Yang kubuat memang cuma berdasarkan umur. Lagi-lagi raw data diutak-atik. Ketika me-recode data, bukan dengan syntax melainkan lewat menu Transform - Recode - Into Different Variables, aku diminta melanjutkan, dan ketahuan bahwa AKU TIDAK TAHU APA-APA. Yadooo yadooo, terlihat betapa bodohnya aku, hiks! Maluuu... Akhirnya aku diajari caranya. Setelah memilih variabel yang akan di-recode, menentukan variabel baru, meng-klik tombol Old and New Values, aku harus mengisikan nilai yang akan diubah dengan nilai barunya. Awalnya aku memilih Value dan mengisikan di textbox: 7-12. Ternyata, karena nilai awal dalam bentuk range, aku harusnya memilih Range dan mengisikan seperti gambar ini.

Setelah tabelnya muncul di output, langsung ku-copy paste ke Excel. Ternyata ada cara yang lebih baik. Pada tree output, tabel dipilih, kemudian klik kanan dan pilih Promote. Setelah Label bertulisan Tables dan yang tidak perlu sudah dihapus, klik kanan pada tabel pada tree tadi lalu klik kanan dan pilih Export.
Setelah selesai, Pak Budi melihat shortcut DevInfo di desktop laptopku. Dia mengira aku sudah belajar aplikasi itu padahal aku baru coba-coba dan masih kebingungan karena tak punya panduan lengkap. Akhirnya diajari sebentar. Menurutnya DevInfo yang kugunakan (versi 5.0) masih versi yang sulit. Katanya versi 6.0 sudah lebih mudah. Sayang sekali... Aku tidak punya... Pak Budi sudah menawari tapi ternyata tidak ada di flashdisk-nya karena sudah dipindah ke harddisk eksternalnya. Hiks! Semoga kali lain aku bisa mendapat master versi yang terbaru dan mempelajarinya.
Hari itu benar-benar hari yang memalukan sekaligus menguntungkan. Memalukan karena aku benar-benar terlihat bodoh. Agak khawatir juga bila ia jadi berpikir bahwa angkatanku sebodoh aku dan khawatir kebodohanku membuat malu kantor. Tapi, aku yakin, sebagai orang yang mengerti statistik, Pak Budi tidak akan menggeneralisasi angkatanku berdasarkan penilaiannya padaku. Sampelnya terlalu kecil dan tidak mewakili populasi, hehe... Lagipula, bila hari ini aku tidak terlihat bodoh, dia tidak akan mengajariku hal baru, dan aku akan tetap bodoh.

y untung to? dapat ilmu lg
BalasHapus