Kali ini aku ingin marah. Izinkan aku marah, jangan melarangku!
Aku benci tamu. Di rumahku, mungkin aku takkan peduli pada tamu. Tugasku hanya membuat minuman, menyuguhkan, lalu bersembunyi di ruang makan atau dapur. Aku bukanlah tuan rumah. Kecuali bila yang berkunjung teman-temanku, dan 95 persen di antaranya pasti perempuan. Itu di rumahku di Brebes. Tapi, di sini... Aku harus menerima tamu. Bila tamu perempuan tak masalah. Aku bisa mengajaknya masuk ke ruang tengah atau bahkan ke kamarku. Tapi, bila tamu laki-laki? Di mana aku harus mempersilakan mereka duduk? Di ruang tamuku tak ada kursi dan tak ada karpet. Dan aku pun bingung harud menyuguhkan minuman apa, meski aku punya stok minuman instan yang beraneka ragam. Tapi, aku tak terbiasa. Ini bukan seperti rumahku di mana aku bisa berinisiatif menyguhkan minuman dan makanan apa.
Dan satu lagi yang membuatku sebal. Kenapa tamu selalu datang ketika rumahku berantakan? dan kenapa mereka harus menyindirku tentang ke-berantakan-an itu? Mereka dengan mudahnya menggeneralisasi bahwa setiap hari rumahku selalu berantakan. Mereka hanya fokus pada apa yang mereka lihat. Mereka menganggap aku tak pernah membersihkan rumahku. Mereka tak sadar, kalau rumahku tak pernah kubersihkan, pasti debu di rumah sudah setebal tembok, kan? Aku tahu aku bukan orang rajin. Tapi, tak perlu seterus terang itu menunjukkan ekspresi atau bahkan mengatakan bahwa aku malas, kan? Mereka sama saja seperti seseorang yang menuduhku memperlakukan dia seperti pembantu. Dia, seperti mereka, tak pernah melihat usahaku untuk membersihkan rumah. Dia tak peduli ketika aku mencuci piring, tanpa melihat siapa yang sudah memakai, tak peduli ketika aku berusaha menyapu dan mengepel lantai. Dia hanya peduli ketika aku terlihat malas. Ini tidak adil. Sungguh, kali ini aku benar-benar terkena efek labelling. Mereka menganggapku malas, aku pun tersugesti menjadi lebih malas dari yang mereka bayangkan.
Seperti juga tetanggaku. Mereka kerap mencelaku karena aku jarang membersihkan saluran air di depan rumah. Mereka cuma bisa menuduhku malas tanpa berpikir bahwa anak-anak merekalah yang selalu membuang sampah di situ, BUKAN AKU. Aku tak membuang sampah di situ. Kenapa aku yang disalahkan atas kekotoran itu? Toh, kadang kubersihkan juga meski aku tahu itu bukan sampahku. Tapi, sekali lagi, mereka tak peduli ketika aku membersihkan dan hanya peduli ketika aku membiarkan semuanya kotor.
Robbii, ampuni aku bila kali ini aku marah-marah dan menjelek-jelekkan orang. Bila kesabaran tak berbatas, berarti aku memang bukan orang yang sabar. Aku lelah menjadi orang yang selalu diam bila dijelek-jelekkan. Aku lelah menjadi orang yang berusaha tak melukai siapapun, karena pada akhirnya aku yang selalu terluka, paling terluka. Aku lelah berusaha menjadi orang baik, karena kebanyakan orang selalu melihatku dengan sisi burukku. Aku tak ingin membenci. Tapi, mereka kerap (bahkan, hampir selalu) membuatku merasa buruk. Terutama yang LAKI-LAKI. Entah kenapa. Mungkin karena sebagian teman-temanku yang perempuan tahu betapa pekerjaan rumah tak pernah selesai. Mereka tahu bahwa hanya butuh hitungan detik untuk membuat rumah yang baru saja kita rapikan menjadi porak poranda. Tuhan, hanya Engkau yang Tahu apa yang kulakukan dan kurasakan.

ngesuk aku mertamu ora bakaan rewel deh, asal disuguih sing enak..
BalasHapusMUNGKIN HIKMAH DARI PERISTIWA TERSEBUT ADALAH AGAR SELALU MEMBERSIHKAN RUMAH SETIAP HARI...HEHEHE...YANG SABAR YA MBAK...
BalasHapus@ Rawins:
BalasHapusyen sampeyan mertamu ya nggawa panganan dewek ya kang, aku nyuguhna teh bae :D
@ PANJI HAFID BOWO AL HAQIQ:
hmm...
aku ga pernah keberatan main ke kosanmu dulu, mil.....
BalasHapus